Cerita Ayah Tentang Kisah Hidupnya Kepada Anak Tunggalnya,

Seorang ayah, namanya tidak disebutkan karena tidak diperhitungkan di dalam kalangan sebagian marga suku mee di kampung agadide, paniai. Namun, namanya pernah dijual-belikan oleh orang-orang yang pro dengan Negara Indonesia kepada Negara Indonesia sediri yang penuh manipulative sejak tahun 1969, (cerita akan berlanjut pada paragraph selanjutnya). Ia dilahirkan oleh ibunya sekitar tahun 1930-an, dia anak terakhir dari 3 bersaudara, kakak pertamanya laki-laki dan keduanya perempuan. Ceritanya, ibu kandung mereka adalah salah satu marga ular, yang berasal dari ekadide. Saat ia berumur 20-an tahun, mulai bergabung dan belajar sekolah buta huruf yang diajar oleh para misionaris, di gereja. Kemudian, selanjutnya beliau tinggal dan belajar bersama teman-teman lain di sekolah Alkitab yang didirikan oleh misionaris C&MA di Panibagata-Kebo, kira-kira tahun 1940-an. Selama ia sekolah, beliau tidak hanya menjadi penginjil, tetapi menjadi pendamping (koki)-nya bagi para misionaris bersama pemerintahan belanda. Ia bercerita, saat itu saya lupa soal kawin atau nikah, sebab aktivitas saya selain sebagai penginjil, saya menjadi kokinya para misionaris untuk angkat atau pikul barang-barang bawaan mereka, ketika kami pergi melayani di daerah-daerah yang jauh dari daerah sekitaran danau paniai, namun saya hanya membantu banyak, ketika mereka ke bagian daerah agadide dan homeyo (hitadipa). Nama-nama misionaris dan pemerintahan belanda yang sering ikut dan pernah makan sama-sama dengan ayah itu, adalah Tuan Trotman, Tuan Post, Tuan JV de Brujin, Tuan Michelson, dkk. Ayah itu, selama hidup menghabiskan umur hidupnya bersama-sama dengan para misionaris gereja kemah injil dan pemerintahan belanda sampai mereka pulang ke negeri asal mereka, sekitar tahun 1970-an. Satu, hal yang misionaris sampaikan, ketika mereka di Bandar udara bogalaga-homeyo, saat mereka berangkat adalah “Gembala Thomas, Negara yang sedang ada ini, akan mengacaukan taraf hidup kalian, jikalau mereka tidak menerapkan pemerintahan dan pendidikan berdasarkan pendekatan kebiasaan hidup kalian, dan sangat hati-hati juga tentang soal penyebaran agama lain, selain agama Kristen protestan & khatolik, sebab dampaknya juga akan menghancurkan pola hidup kebiasaan kalian”.

Ayah itu, cerita sejak tahun 1960-an itu terjadi perubahan pelayanan dalam system pemerintahan, sehingga kami (para pengikut misionaris & para misionaris) mengalami tantangan yang sangat luar biasa, ini fakta, dan ketika itu mereka (para misionaris) sampaikan kepada kami ada sebuah persetujuan dari pertemuan di amerika (saat itu dibilang kanada), tentang perubahan dan pertukaran nama system pemerintahan, yaitu dengan nama “pemerintahan irian barat” bukan “pemerintahan netherland new guinea” yang ada sebelumnya. Ayah itu, saksi benar dan nyata, sebab beliau sendiri yang mengalaminya tentang perubahan-perubahan itu, sampai sejak tahun 1969. Saya menjadi pendengar dari cerita ayah itu, bahwa selama PEPERA berlangsung tahun 1969, beliau berdiam di kampung Bakanautopa-Bamoma (Agadide) & sembunyi di hutan bersama-sama dengan masyarakat di daerah itu, karena pandam Papua (Sarwo Edhi Wibowo), mengirim tentara indonesia di Paniai, disekitaran danau bunauwo, untuk melakukan peperangan dengan masyarakat Paniai bersama Karel Gobai. Terkait dengan itu, dia (ayah itu) merasa aneh dan terkutuk kepada mereka yang menjual, namanya dan dimasukan di dalam daftar pemilih PEPERA 1969 di wilayah Paniai, dengan nomor urut wilayah paniai ke-26 dan nomor urut seluruh papua, ke-279, yang diadakan di Kota-lama Nabire itu, karena ayah itu cerita dengan saya, pada saat PEPERA 1969 ayah itu berada di kampung bersama masyarakat di hutan selama satu bulan, selama ia hidup tidak pernah di nabire, satu kali pun tidak, ceritanya. Saya, menduga orang-orang yang menjual nama ayah itu adalah, Uwamuto (Viktor Muyapa), Elly Nawipa, Yakubus Muyapa (Dodopou), Patty Gobai, Obaikawagi Muyapa, Seperius Nawipa, dkk-nya. Jikalau orang-orang ini masih, ada perlu dipertanggungjawabkan, sebab itu menjual nama harga diri orang, kalau semua sudah meninggal, akan memperoleh dosa yang sangat luar biasa, sebab itu menjual daerah dan tanah air kita.

Setelah, para misionaris dan pemerintah belanda pulang ke negeri mereka masing-masing, sejak tahun 1970-an, pada sekitaran akhir tahun 1980-an, ayah itu kembali tinggal bersama-sama kakak-nya, di Homeyo (Hitadipa). Saat itu, kakak kandungnya seorang kepala suku, di hitadipa-bilogai dan ayah itu hanya pelayan (gembala) jemaat di daerah itu. Kakak kandungnya, itu pemimpin berwibawa dan orang kaya secara adat suku mee dan moni, kakaknya itu bernama Elias Nawipa (Kupaibukatuma). Saat itu, kakaknya memaksa adiknya untuk kawin/nikah, sehingga ayah itu terima dan kakaknya bersama keluarganya, taruh maskawin, dengan seorang perempuan kampung yang tidak pernah sekolah dan buta huruf. Istrinya ayah itu, berasal dari ugadagito / yumauwo / (Bugalaga), di sekitaran sepanjang sungai Kemabu (Sungai Degeuwo/Derewo), istrinya itu bermarga kus-kus “Kobepa”, nama yang diberikan oleh suaminya adalah “Besina”, nama itu, ayah itu mengutip dari seorang nama istri seorang misionaris gereja kemah injil yang pernah tinggal dan jalan sama-sama ketika para misionaris ada di paniai. Saat ayah itu kawin/nikah sekitaran berumur 50-an tahun, ia kembali ke kampung halamannya dari hitadipa bersama-sama dengan anak-anak seorang kaya secara adat suku mee bersama istrinya, karena uang (kulit biyaa) maskawin sebagian besar dari orang kaya itu, bernama “Kitapabega Nawipa”. Setelah tiba di kampung Kopabaida, daerah pinggiran danau paniai, melalui seorang istri orang kampung itu, mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, diberi nama “Demi”, Ia dilahirkan di Kampung Kopabaida, Paniai tahun 19 Desember 1988, sekitaran jam 12:00 waktu Paniai. Cerita ayah itu, sangat sedih dengan istrinya, karena istrinya meninggal setelah anak yang dilahirkan itu berumur 11 (sebelas) bulan, saat anak itu keluar gigi atas dua dan gigi bawah dua. Menurut cerita ayah itu, setelah mamanya meninggal, mama itu bilang kepada ayah dalam mimpi, anak itu serahkan kepada “Gobaiadama (Debora Gobai)”, biar dia yang piara sampai besar, akhirnya sesuai dengan mimpi itu, ayah itu serahkan kepada “Gobaiadama”. Gobaiadama (Debora Gobai) itu, istri keduanya dari “Kigitapageba Nawipa,” dan ternyata saat ayah itu taruh uang (kulit biya) maskawin sebagian besar di taruh olehnya, selain kakak kandung ayah itu.

Cerita ayah itu, sejak istrinya meninggal sampai dia meninggal, ayah itu tinggal dan hidup di kopabaida, bamoma, kogada, geitapa, dan terakhir di okonobaida (ekadide). Selama itu, ayah itu tidak nikah dengan istri lain, dia hanya cari kus-kus saja dan sering kus-kus itu dia barapen lalu datang bawa ke mama Gobaiadama dan anaknya, sampai ia besar. Setelah Gobaiadama itu menjadi, janda dia ikut anak perempuanya, bernama “Makdalena Nawipa” yang dinikahi dengan “Naftali Degeipouga” di kampung Nakuago, Ekadide. Gobaiadama itu bersama anak perempuannya membawa anak itu juga, dan anak itu piarah sampai besar oleh Gobaiadama, Makdalena Nawipa bersama suaminya, menjadikan anak pertamanya, kemudian anak itu diberi nama “Degeitobi atau Enatobou”. Saat anak itu, berumur delapan tahun, dia masuk sekolah SD YPPGI Obaipugaida. Sejak anak itu SD kelas tiga, ayah itu sering membawanya ke hutan untuk berburu kus-kus saat bulan purnama dan bermalam di goa di hutan berantara gunung Yatubagoo (sebuah jajaran pegunungan dari gresberg bagian barat laut), selama itu banyak cerita yang didapatnya dari ayah itu, termasuk cerita ini.

Sejak anak itu kelas 5 SD ayah itu meninggal dan menguburkannya, di kampung okonobaida-ekadide. Kemudian, SD kelas 5 sampai SMP, anak itu sudah besar dan tinggal sama-sama dengan mama piara Gobaiadama itu, namun anak itu sangat sedih, karena mamanya “Gobaiadama” itu meninggal sejak anak itu SMP kelas 2 di Komopa, Agadide. Setelah, tamat SMP, anak itu ke kotabesar, untuk melanjutkan pendidikan lebih lanjut, meninggalkan anak mama piarahnya, bisa disebut mamanya “Makdalena Nawipa dan Ayah angkatnya Naftali Degeipouga” di kampung nakuago-ekadide. Selanjutnya anak itu, berpendidikan di kotabesar, mulai dari SMA sampai perguruan tinggi. Selama berpendidikan sampai saat ini, anak itu mengalami banyak tantangan yang sangat luar biasa, namun anak itu punya impian dan semangat yang sangat luar biasa serta Tuhannya selalu bersamanya, sehingga anak itu tidak pernah mengerah atau putus sekolah.

Pernyataan :

  1. Terkait dengan cerita ini, anak itu sedang bertanya-tanya tentang; orang yang menjual nama ayahnya itu, untuk meminta dan perlu dipertanggungjawabkan atau datang meminta maaf kepada anaknya,
  2. Anak itu menyatakan berdasarkan cerita ayahnya ini, persetujuan Amerika sampai PEPERA tahun 1969 adalah sangat rekayasa dan penuh manipulasi contohnya itu, nama ayah dimasukan sembarangan, dan tanpa sepengetahuan yang punya nama,
  3. Terkait dengan poin satu sampai poin kedua ini, anak itu punya impian untuk akan menggugat dan sedang cari tahu secara pasti kepada orang-orang yang menjual dan memasukan dalam daftar pemilih PEPERA rekayasa itu,
  4. Untuk selanjutnya, anak itu meminta kepada pemerintah daerah yang ada di wilayah meepago, perlu membangun pembangunan dan pendidikan yang berbasis budaya, dia tegaskan tidak boleh ijinkan agama baru atau konsep pembangunan budaya orang melayu,

Demikianlah tulisan ini, anak itu persembahkan kepada Tuhan atas kisah hidup singkat ayahnya. Dan, cerita ini adalah sebuah cerita seorang ayah kepada anaknya, ketika mereka bersama-sama di sebuah hutan berantara di kampung ekadide, Paniai. Pada akhirnya, anak itu minta suatu masukan terkait tulisan cerita ini dari siapa saja yang akan membacanya. Semoga tulisan ini, menjadi sebuah konsep pemikiran dan bisa menjadi data yang perlu dimasukan juga dalam gugatan proses “PEPERA tahun 1969” yang penuh manipulasi oleh orang Papua pro Indonesia bersama militer Indonesia, yang dibasiskan persetujuan amerika serikat, sejak tahun 1963 itu. #Selamat Membaca#

Penulis adalah seorang anak, dari korban nama ayah yang dimanipulasi dalam daftar pemilih PEPERA tahun 1969 di wilayah kabupaten paniai, di Nabire.

Comments are closed.