10 Desember 2015 : Seminar Nasional Upaya Penyelesaian Pelanggaran HAM Di Indonesia Yang Tidak Menentu Dengan Program Nawacita

Penulis : Demianus Nawipa

1. Saya dapat Brosur seminar Nasional Dari Jaringan Pemuda Nusantara (JPN)

Pada hari selasa, 07-08 Desember 2015, di kamar-ku kos di tengah kota gudeg vs kota pendidikan nusantara,Yogyakarta. Pada hari itu, kota jogja mendung dan turun hujan rintik-rintik, maka tidak bisa keluar dari kamar, saya sangat senang kesempatan itu, saya bertahan dan berbaring di kamar. Kemudian, saya meluangkan waktu itu, untuk membaca buku tentang “Dialog Jakarta-Papua Persfektif Papua (Pater Dr. Neles K.Tebai)” sambil merenung kembali tentang ribuan kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pihak penguasa mulai sejak tahun 1960-an hingga saat ini, lebih khusus terkait kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh anggota TNI dan polisi Indonesia yang ada di Papua terhadap pelajar (siswa) SMA baik di Timika maupun Paniai serta kasus-kasus lainnya, mulai sejak Jokowi-JK dilantik menjadi Presiden Indonesia sampai saat ini.

Sebenarnya kasus-kasus ini sebagai sebuah tamparan buat pemerintahan Jokowi-JK, maka itu seharusnya perlu diselesaikan secara tuntas, dan untuk dibuktikan bahwa penyelesaian kasus HAM itu sebagai suatu realisasi dari program yang terkandung dalam “Nawacita” demi Indonesia. Maka pada saat itu, seharusnya Jokowi perlu ditindak tegas untuk menyelesaikannya, namun sampai saat ini belum muncul titik penyelesaiannya.

Saya teringat pada 26 desember 2014, melalui beberapa media online dan media cetak dipublikasikan di Indonesia dan dunia bahwa “saya (Jokowi) akan tuntaskan kasus pelanggaran HAM berat di Paniai yang menewaskan 4 pelajar SMA Negeri 1 Paniai Timur oleh anggota TNI yang bertugas di Paniai, berdasarkan data realitas yang terjadi”. Namun janji Presiden itu tidak pernah ada tindakan secara tegas, dan sampai saat ini 7-8 desember 2015 kasus ini tidak diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi-JK di Indonesia.

Pada, tanggal 8 desember 2015, sekitar jam 09.00 waktu jogja, saya dapat sebuah brosur yang dikirim dari seorang teman kampus melalui BBM, beliau seorang anggota BEM kampus. Brosur itu tentang “seminar nasional Hari HAM se-Dunia, 10 desember 2015” dengan thema : “Upaya Merealisasikan Nawacita Menuntaskan Pelanggaran HAM,” tempat pelaksaan di Ruang Teatrikal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jam : 09.00-selesai dan pemateri : 1) Prof.Dr. Warsito Utomo (Guru Besar Fisipol UGM), 2) Piter Watimena (purn/mantan Dirjen Penhan RI), dan Puri Kencana Putri (Anggota LSM Kontras), organ pelaksana : Jaringan Pemuda Nusantara (JPN) Yogyakarta. Dalam brosur tersebut, JPN menulis beberapa kasus pelanggaran HAM berat, seperti kasus tahun 1965, kasus munir, kasus udin dan berbagai pelanggaran HAM di Papua seperti kasus pelanggaran HAM berat di Paniai, kasus Tolikara dan Aceh Singkil.

2. Saya Delegasi Seminar Itu

Pada kamis, 10 desember 2015 jam 06.40 wib, saya bangun tidur, beberapa menit kemudian saya minum air bening sambil membayangkan aktivitas apa yang saya akan lakukan pada hari itu. Kemudian saya langsung terpikir kegiatan seminar nasional tentang kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Sebelum saya ke tempat kegiatan, saya menyiapkan slebaran 40 lembar terakait kronologis singkat serta para korban mati dan luka-luka ringan yang terjadi di Paniai sejak 7-8 desember 2014. Pada pukul 08.00 wib saya mulai berangkat ke tempat kegiatan. Tujuan saya menyiapkan slebaran ini karena saudara-saudara dari JPN sebagai pelaksana percayakan dan menyediakan waktu 15 menit untuk menjelaskan semua kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua, lebih khusus kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama 7-8 desember 2014 sampai 10 desember 2015 ini.

Sesampai ke tempat kegiatan saya masuk dan melihat di dalam ruangan seminar dipenuhi peserta seminar dengan mahasiswa yang kuliah di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta serta pemuda dan para pemateri serta panitia pelaksana. Saat itu, saya melihat banyak peserta yang tidak dapat tempat duduk, terpaksa banyak peserta yang duduk di lantai. Saya lagi pada awalnya tidak dapat tempat duduk dan saya terpaksa berdiri di pojok diding dekat pintu utama, tetapi saya di antar dari panitia di tempat yang bisa duduk dan dengar apa-apa yang akan disampaikan oleh para pemateri.

Tempat duduk saya terletak di kursi ke-4 dari deretan kursi yang ada di depan para pemateri. Pada akhirnya, saya sangat senang mendengar pemaparan materi dari para pemateri serta pada sesi tanya jawab.

3. Saya Mendengar Materi Seminar

Pada kamis, 10 desember 2015 sebagai hari HAM Se-Dunia, maka panitia pelaksana dan ketua Jaringan Pemuda Nusantara (JPN) membuka acara itu dengan kata-kata sambutan secara bergantian. Para pemateri yang disampaikan saat acara itu berbeda nama dengan nama yang disebarluaskan melalui brosur kegiatan itu sebelumnya. Para pemateri itu adalah : 1) Piter Watimena (purn, mantan dirjen penhan RI), 2) Dr. Haryadi Baskoro,MA, M.Hum (seorang advokat dan kerja di Kantor Hukum & HAM Yogyakarta), 3) Seorang Mba, namanya tidak disebutkan, dia seorang perempuan Indonesia dari tanah jawa yang pihak korban pelanggaran HAM pelakunya adalah pihak militer dan polisi indonesia.

Sebelum moderator berikan kesempatan kepada para pemateri, beliau mengungkapan judul seminar, dan katanya judul seminar ini sebagai salah satu dari 8 program Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Yusuf Kalla yang terkandung dalam “nawacita”. Dalam 9 program kerja Jokowi-JK itu salah satunya tentang penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu.

Kata-kata seorang moderator ini, sangat inspiratif sebab beliau ungkap semua pemuda dan mahasiswa Indonesia jangan melupakan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu sebab itu bagaikan pelita untuk menyelesaikan masalah-masalah HAM di masa depan Indonesia yang lebih baik. Selanjutnya moderator berikan kesempatan kepada para nara sumber secara berurutan.

Presentasi pertama diawali oleh Piter Watimena (purn) dengan judul materi; “upaya ketahanan nasional untuk menyelesaikan semua kasus pelanggaran HAM dengan mendukung program nawacita.” Sebelum beliau memaparkan, beliau ceritakan pengalaman dirinya ketika beliau aktif di anggota AU Republik Indonesia.

Dalam ceritanya itu, ada beberapa hal yang saya tanggap yaitu, beliau pernah memimpin pusat markas AU kawasan timur Indonesia di makasar, beliau sudah mahir dalam penerbangan pesawat tempur, beliau pernah juga menerjunkan beberapa anggota pasukan pertahanan nasional ke pulau Irian (papua), katanya.

Beliau mengungkap tempat-tempat yang beliau kunjungi di Papua,yaitu wasior, mampenduma, mimika, dan puncak jaya dll. Maka, saat itu saya sebagai seorang putra daerah Papua, tarik nafas dan Mba yang ada disamping saya tanya bahwa mengapa tarik nafas ? kemudian saya menjawab Mba dengar cerita pengalaman pak pemateri, lalu Mba itu saya melihat menangis berkaca-kaca. Saya tidak salah tarik nafas sebab beliau sudah menyatakan bahwa saya salah satunya dari ratusan anggota TNI yang sering ke daerah-daerah yang sering terjadi konflik memecah-belah NKRI seperti propinsi Aceh dan Papua. Jadi, beliau menyatakan saya hidup ini untuk mempertahankan NKRI.

Saya menulis sambil mendengar penyampaian beliau, dalam pemaparannya, macamnya beliau memberikan motivasi demi generasi muda Indonesia, dengan kata-kata motivasinya adalah : mahasiswa itu identik dengan pergerakan, perjuang, dan penentu masa depan pertahanan NKRI. Beliau menjelaskan dan memotivasi banyak terkait masa/waktu perjuangan panjang bangsa Indonesia, dengan kata republik ini berdiri dengan perjuangan yang panjang dan korban jiwa/raga, bukan perjuangan Negara boneka.

Kemudian katanya lagi bahwa sejak tahun 1960-an kekuatan militer semakin diperhitungkan oleh negara-negara lain karena ada dorongan kekuatan rakyat (power people), maka saya menyampaikan kepada generasi muda bangsa Indonesia jangan lupakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dan selalu menghargai para pejuang yang telah gugur dalam arena pertempuran, kita juga harus menerapkan hukum yang benar demi pertahanan nasional, kita jangan terpengaruh dengan kebiasaan dan aturan dari Negara lain, sebab soal HAM ini selalu melanggar aturan dan kaidah hukum internasional, seperti amerika dan negara-negara yang sering terjadi konflik besar, katanya.

Pemateri kedua Bpk Dr.Haryadi Baskoro, MA, M.Hum, dengan judul materi : “Semua Pelanggran HAM harus diselesaikan melalui Hukum yang berlaku di Indonesia demi Masa depan Nusantara”. Sebelum beliau memaparkan materi, beliau tampilkan sebuah kain batik, ungkapnya ini sebuah symbol batik papua, tetapi saya melihat kain batik itu bukan bermotif papua, sebab gambar dan tampilan pada kain batik itu adalah budaya khas jawa.

Selanjutnya ada beberapa hal penting yang saya menulis saat beliau memaparkan materinya yaitu, Indonesia adalah satu-satunya negara yang besar dan mempunyai ribuan pulau, tak pernah punya kepulauan di negara-negara lain di dunia, kecuali Indonesia tercinta, maka kita harus bangga menjadi negara Indonesia yang besar dan mempunyai sumberdaya daya alam yang kaya, katanya. Olehnya itu, bangsa kita ini bisa diombang-ambing oleh negara asing,

Maka kita sebagai generasi muda bangsa perlu menjaga warisan hasil perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran. Oleh sebab itu semua pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia pada masa lalu sampai sekarang harus diselesaikan melalui hukum yang berlaku di Indonesia sebagai negara hukum, tanpa melibatkan pihak asing dengan meminta proses penyelesaiannya, termasuk aturan hukumn dan HAM yang berlaku secara global, sebab semua negara dunia ini tidak pernah mematuhi aturan internasional itu, walaupun hukum itu ada, seperti negara amerika, dia juga sering membuat pelanggaran HAM banyak dalam negara-negara bagiannya, katanya dalam pemaparan itu.

Oleh karena itu, pendapat saya bahwa untuk kita di negara ini, semua kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu sampai saat ini, kita harus selesaikan dengan hati yang dingin dan itu semua harus tuntas dengan menggunakan hukum yang berlaku di negara kita. Saat ini sebuah momentum yang baik untuk mengungkap para pelaku pelanggaran HAM, dan pemerintahan Jokowi-JK dapat diselesaikan sebagai salah satu bagian program yang terkandung dalam “nawacita” dengan teknis kerjanya “revolusi mental”.

Penjelasan beliau, dalam sebuah teori HAM menjelaskan bahwa “kita harus menjunjung tinggi hak seseorang atau sesama kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran serta perasaan dalam hidup”. Maka, saya suka negara kita punya panacasila, yaitu pada sila ketiga ini perlu diprioritaskan, sebab semua pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia ini, bila kita tidak dapat menyelesaikan, maka dampaknya akan membesar dan sulit diselesaikan, oleh karena itu saya kira semua pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia ini, perlu diselesaikan, sebab untuk mengatur negara ini, “dari kita, untuk kita demi masa depan NKRI,” katanya.

Untuk pemaparan pemateri yang ketiga, saya tidak semua menulis, cuma saya dengar materinya, bersifat cerita tentang sebuah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh beberapa oknum anggota TNI pada masa lalu. Saat beliau sampaikan, saya melihat dia cerita sambil menangis berkaca-kaca, sebab katanya, kasus itu sampai saat ini tidak disikapi baik oleh negara ini, khususnya KOMNAS HAM RI, walaupun beberapa kali secara individu saya ke Kantor KOMNAS HAM, mereka pernah menolak surat penyelesaian kasusnya itu, sambil tunjuk bukti surat itu kepada kami (para peserta) seminar. Maka, beliau juga sangat mengharapkan pemerintahan Jokowi-JK, segera selesaikan semua kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu sampai saat ini, atas dasar program “Nawacitanya itu” dengan teknis kerja revolusi mental.

Seorang perempuan jawa sebagai bagian dari keluarga korban pelanggaran HAM pada masa lalu menyampaikan, kepada seluruh pemuda dan mahasiswa Indonesia bahwa kita perlu mendukung apapun yang akan pikir oleh pemimpin negara ini, agar negara ini dapat diselesaikan semua kasus pelanggaran HAM itu, berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia dan cara Indonesia itu sendiri, tanpa melibatkan pihak lain dari negara lain.

4. Sesi Diskusi & Tanya Jawab

” Tanggapan & pertanyaan Teman Peserta “

Dalam sesi diskusi moderator membuka 2 sesi, yang mempunyai banyak penyanya, dan tanggapan tetapi satu mahasiswa yang sependapat dengan saya. Teman itu, seorang mahasiswa dari kampus UIN, namanya tidak disebutkan. Tanggapannya bahwa :

“kepada Pak Piter Watimena sebagai seorang purnawirawan yang berpengalaman, tetapi dalam penjelasan bapak menyebutkan bahwa semua kasus pelanggaran HAM yang selama ini dibuat oleh anggota TNI itu, proses penyelesaiannya kita harus selesaikan dengan atas nama oknum, bukan institusi negara, kata bapak, saya jujur sebagai anggota TNI, saya tidak suka dengar semua pelanggaran HAM yang dibuat oleh anggota TNI itu menjelekan atau mengatasnamakan institusi TNI atau negara Indonesia, sebab untuk kami barisan TNI yang salah, kami selalu memberikan hukuman seberat-beratnya kepada anggota yang salah sesuai hukum yang berlaku. Maka, untuk kita di Indonesia untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM , kita harus menjelekan oknum bukan suatu institusi, sebab TNI adalah penentu dan siap rela korban demi mempertahankan NKRI”.

Itu penjelasan bapak yang saya tanggapi, tetapi menurut saya “pelanggaran HAM terjadi karena utusan institusi yang selalu mengorbankan rakyat Indonesia sendiri, yang seharusnya dilindungi, bukan dihabisi nyawa atau mencabut hak hidup. Jadi, justru itu yang akan memecah-belah NKRI. Nah pertanyaan saya bahwa : Bagaimana cara mengatasi masalah di Indonesia pada masa yang akan datang….? Bila negara tidak menyelesaikan semua kasus pelanggaran HAM masa lalu” ! kemudian penjelsan Pak Piter Watimena bahwa; “ kita jangan ungkit-ungkit masalah yang telah lalui, dan dalam penjelsannya, dia memberikan motivasi kepada seorang kawan yang tanya, terkait bagaimana sebagai anak bangsa Indonesia sesungguhnya memunculkan pikiran seperti itu, jangan sekali-kali pikiran demikian membuka wawasan buat teman-teman-mu dari Papua dan Aceh, sebab pikiran demikian membuat jembatan untuk memunculkan pikiran terkait pemisahan diri atau memecah-belah NKRI”.

Saat itu saya juga saksi dan dengar terkait perdebatan ini, sebagai putra daerah asli Papua, saya sangat senang kepada teman mahasiswa orang asli jawa yang satu ini, sebab saya melihat teman itu dia bicara jujur dan transparan, dan itu mahasiswa yang benar-benar belajar kejujuran dan keadilan demi mengungkap semua persoalan pelanggaran HAM di Indonesia.

5. Saya Menjadi Penjelas Pelanggaran HAM Berat di Papua

Pada sesi ini, saya diberikan kesempatan 15 menit untuk menyampaikan beberapa kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, mulai sejak tahun 1960-an dan lebih khsus setelah Jokowi-JK dilantik menjadi presiden dan wakil peresiden Indonesia sejak tahun 2014 sampai saat ini (2015).

Saat itu, saya ingin menyampaikan semua kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, tetapi karena waktu hanya 15 menit, maka saya hanya sampaikan khusus pelanggaran HAM berat di Papua yang korbannya adalah pelajar SMP/SMA yang ditembak mati oeh anggota TNI/POLRI sejak Jokowi –JK dilantik sampai saat ini (2015), sekaligus saya bagikan slebaran yang berisi kronologis kasus pelanggaran HAM berat di Paniai serta nama-nama korbanya, kepada sebagian peserta dan pemateri. Dalam slebaran itu saya pesan kepada pemerintah Indonesia bahwa :

  • Pemerintahan Jokowi-JK segera menyelesaikan setiap kasus pelanggaran HAM masa lalu, dan pemerintah Indonesia membuka ruang dialog Jakarta-Papua sesuai konsep dialog persfektif Papua yang dimediasi oleh pihak netral,
  • Pemerintah Indonesia segera ijinkan utusan pencari fakta pelanggaran HAM di Papua dari PIF dan perwakilan PBB,
  • Jikalau pemerintah tidak mengindahkan usulan poin satu (1), maka semua kasus pelanggaran HAM terjadi di Papua mulai sejak tahun 1960-an hingga saat ini, pasti akan menjadi isu internasional, maka proses selanjutnya akan diselesaikan juga melalui jalur hukum internasional,

Setelah saya menjelaskan, saya mengajukan satu buah pertanyaan bahwa; “sebenarnya semua kasus pelanggaran HAM ini, negara Indonesia melalui KOMNAS HAM RI sudah tahu, tetapi lembaga/institusi mana yang dihalangi ….. ? Dalam tulisan ini, saya meminta teman-teman membaca dan menanggapi.

__________________________________________________________

Penulis adalah Peduli Pendidikan Di Papua Yang Sedang Kuliah di Yogyakarta

Comments are closed.