Apakah Siap Karyawan 7 Suku Papua Menjadi Presdir PT. Freeport Indonesia ?

Penulis : Demianus Nawipa

I. Siapakah 7 Suku Itu ?

Negara Amerika Kuras Emas di Papua, Masyarakat Asli Menjadi Miskin (ist)

Negara Amerika Kuras Emas di Papua, Masyarakat Asli Menjadi Miskin (ist)

Tujuh suku adalah sebagian besar orang asli Papua, yang mendiami di pegunungan tengah pulau Papua serta satu suku yang mendiami di pesisir selatan Papua.

Tujuh suku juga adalah sejumlah orang dari tujuh suku itu sendiri baik sebagai masyarakat biasa, PNS, karyawan/ti, mahasiswa, orang kaya, orang miskin dll. Ketujuh suku itu adalah; suku amugmee, kamoro, dani, moni, mee, nduga, dan damal.

Saya menganalisa, kalau ada karyawan/ti orang asli Papua yang kampanye bahwa “Tujuh Suku Siap Menjadi Presdir PT.Freeport” pribadi saya, kalimat ini tidak terima, dengan alasan; selama ini tidak semua orang dari tujuh suku mendapat hasil eksploitasi emas, tembaga dan perak terbesar dunia itu. Jadi, kalimat itu, pribadi saya tidak terima untuk dijadikan bahasa kampanye, oleh sebab itu, sekali lagi saya katakan “Stop Mengatasnamakan Masyarakat Kecil dari 7 suku”. Jikalau boleh saya usulkan, “Tujuh Suku Karyawan PT.Freeport Siap Menjadi Presdir PT.Freeport Indonesia” BUKAN sepeti kalimat yang tadi.
II. Siapakah Karyawan/ti 7 Suku Di Freeport Indonesia ?
Karyawan/ti Tujuh Suku di PT.FI adalah sekelompok atau sebagian orang dari 7 suku yang menjadi karyawan/ti yang sedang kerja di PT.Freeport. Untuk kuantitas karyawan/ti yang sedang kerja di PT. Freeport sampai saat ini, pribadi saya belum tahu bahwa berapa orang yang kerja di perusahaan terbesar dunia itu.
Selama tahun 2015-2016 ini, saya mengikuti di media, orang ramai dibicarakan soal tanah amugsa yang dieksploitasi emas, perak dan tembaga oleh PT.Freeport itu. Oknum-oknum yang meramaikan di media terkait perusahaan itu adalah John Moffet undur diri, Maroef undur diri dari Kursi Presdir PT.FI, Setya Novanto dipecat jabatan Ketua DPR RI, dan beberapa petinggi negara ramai mempersoalkan perusahaan itu dengan motif kepentingan yang berbeda.
Terkait Soal itu juga, sebagai pemilik kedudukan perusahaan itu, pemerintah propinsi Papua tidak tinggal diam. Pemerintah propinsi Papua juga menawarkan kepada pemerintah pusat (jakarta) melalui beberapa argumen, seperti; kantor PT.Freeport dipusatkan di Papua, bangun smelter sendiri di Papua, dan Presdir PT.Freeport harus orang asli Papua.
Terkait argumen dan usulan bertubi-tubi dari pemerintah propinsi Papua dan juga dari sekelompok orang dari karyawan/ti PT.Freeport Indonesia, tentang smelter, kantor freeport dan presdir itu “BAGUS”. Tetapi, yang sangat disayangkan adalah semua usulan itu sampai saat ini tidak pernah ada titik terang atau tidak pernah ada prinsipel yang jelas.
Satu hal yang sangat disayangkan adalah, soal Presdir itu, kayaknya tidak akan didapat karyawan dari 7 suku. Mengapa saya katakan demikian…?, SEBAB saya punya 4 alasan sebagai berikut :
  1. Karyawan dari 7 suku harus menunjukan “KUALITAS MANAJEMEN PERUSAHAAN”, tanpa pukul dada tinggi, biar impian dari karyawan 7 suku itu benar-benar terwujud,
  2. Jikalau Seseorang dari 7 suku atau dari orang asli Papua yang menjadi Presdir PT.Freeport Indonesia, dia harus tahu bahwa “Jangan-jangan” akan terbongkar dampak lingkungan atau konflik yang tersarang secara “SECRET” selama ini, mulai sejak perusahaan itu dieksploitasi sampai saat ini, kemudian nantinya akan dipersalahkan manajemen Presdir PT.FI putra daerah,
  3. Terkait dengan point ke-2, karyawan dari 7 suku, tidak boleh menunjukan “KUANTITAS/FISIK” karyawan/ti saja, tetapi siap dan dipertimbangkan “KUALITAS” menghadapi semua dampak yang akan muncul,
  4. Saya kira untuk menjadi Presdir PT.FI tidak segampang, sebab itu perlu dipersiapkan berbagai kekuatan, termasuk disiapkan beberapa modal uang, untuk ditawarkan kepada pihak PT.Freeport MacMoran di amerika, dan soal itu bilamana para karyawan asli Papua atau Pemerintah propinsi Papua sudah disiapkan dana untuk menanam modal, itu lebih bagus.
Dengan demikian, 4 alasan ini, saya pribadi sebagai putra daerah asli Papua sangat “SAYANGKAN & SEDIH”, kepada para karyawan/ti asli Papua yang sedang pikir barang besar ini, demi kepentingan kita bersama. Tetapi, saya mempunyai satu pendapat yang bagus untuk kepentingan kita kedepan bahwa anda harus perjuangkan satu departemen untuk karyawan/ti 7 (tujuh) suku atau karyawan/ti orang asli Papua, itu lebih bagus, dan itu perjuangan murni dan yang nantinya pasti akan ada harapan untuk kita.
III. Tidak Semua 7 Suku Menikmati Hasil Eksploitasi PT.FI
Selama PT.Freeport Indonesia & PT.Freeport MacMoran yang beroperasi di pegunungan Grasberg & Eartberg Papua, tidak semua orang asli Papua (masyarakat 7 suku) yang mendiami di kawasan itu memperoleh atau menikmati hasil, ekploitasi emas, perak dan tembaga terbesar dunia itu.
Termasuk biaya pendidikan, hanya selama ini yang sering kerja sama antara PT.Freeport Indonesia & LPMAK, untuk mempersiapkan SDM dalam bidang pendidikan bagi 2 suku dan 5 suku. Tetapi itu pun tidak pernah dilihat hasil yang maksimal dan hasil yang terakomodir. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan, yang muncul karena putra daerah merasa dirugikan, yaitu :
” Mengapa PT.Freeport Indonesia & LPMAK tidak pernah pikir untuk membiayai putra daerah dalam bidang-bidang langkah selama ini …..?, seperti teknik geologi, teknik pertambangan, teknik perminyakan, teknik lingkungan dan teknik-teknik yang lain …… !!! “
Heheheh …..!! “TERTAWA SAKIT PERUT”,  Saya pribadi tidak pernah dengar dan tidak pernah melihat bukti di lapangan antara 7 suku bahwa :
” Ketika PT.Freeport Indonesia itu hadir di tanah Amungsa sampai saat ini, 7 (tujuh) suku tidak ada Doktor, Master, Sarjana dan sejenisnya yang dibiayai oleh PT.Freeport Indonesia yang dibasiskan oleh Freeport MacMoran itu”.
Oleh sebab itu, dengan adanya krisis SDM dalam lingkup karyawan/ti 7 suku di Papua, maka saya usulkan kepada saudara-saudara saya dari 7 suku, bahwa :
” Jangan kampanye terkait Presdir PT.Freeport nanti, SEBAB saya malu …!! coba bersatulah semua Karyawan Orang Asli Papua untuk merebut kursi 01 PT.Freeport itu, tanpa membeda-bedakan antara sesama orang asli Papua.”
IV. Presdir PT.Freeport Indonesia Itu Bukan Punyanya Karyawan/ti Dari 7 Suku
Presdir (Presiden Direktur) PT.Freeport itu adalah posisi teratas alias seorang manajer besar dalam perusahaan PT.Freeport Indonesia itu. Oleh sebab itu untuk menjadi 01 PT.Freeport itu, perlu ada persiapan dan pengalaman yang matang, khususnya dalam bidang perusahaan atau pengalaman manajemen industri lainya serta persiapan modal untuk join dengan perusahaan induk PT.Freeport Indonesia.
Jadi, untuk merebut kursi 01 PT.Freeport itu, perlu ada dukungan dan komitmen serta persatuan yang kuat dari seluruh karyawan/ti orang asli Papua, pemerintah daerah timika, tokoh adat, tokoh agama serta dukungan dari gubernur Papua.
Untuk merebut kursi 01 itu bukan hanya jago “Melempar Bahasa Di Media”, tetapi soal ini milik semua orang asli Papua tanpa membeda-bedakan antar suku, daerah dan bahasa. Maka, mulai saat ini, sebelum dibicarakan masa kontrak karya perlu dibicarakan, terkait strategi, komitment dan persatuan karyawan anak negeri Papua, biar posisi 01 PT.Freeport yang dimimpikan itu bisa dipeoleh dan terwujud.
V. Apakah Punya Ide Karyawan/ti Asli Papua PT.Freeport Indonesia bahwa Kontrak Karya PT.FI Tidak Diperpanjang ?
Naah…selama ini, saya memantau dan melihat kepada para karyawan/ti Orang Asli Papua PT.Freeport Indonesia, tidak 100 % ingin tutup atau tidak 100 % ingin tidak diperpanjang Kontrak karya.
Jadi, momen ini, ada sekelompok karyawan/ti orang asli Papua yang sering dan sedang kampanye bahwa; bilamana posisi Presdir PT.FI kita orang asli Papua atau kami dari 7 suku tidak dipercayakan (tidak dapat), maka kontrak karya tidak boleh diperpanjang atau PT.Freeport di tutup.
Saya kira bahasa dalam kalimat ini, hanya Asal Bicara (ASBI), sebab gaji yang diperoleh karyawan PT.Freeport kan besar ….? Kemudian, bahasa seperti tadi, itu sering orang menunjukan “KEBODOHAN-NYA (menunjukan FISIK)” kepada publik, tanpa melihat dan tanpa sadar bahwa kemampuan kuantitas serta kualitas SDM Karyawan/ti di perusahaan tersebut.
Jadi, saya kira soal perusahaan PT.Freeport itu, bukan masalah kecil dan juga bukan hanya 7 suku punya masalah. Soal ini yang punya masalah adalah milik semua orang asli Papua, maka perlu ada strategi, persatuan dan komitmen yang jelas, biar karyawan/ti orang asli Papua yang dapat kursi 01 PT.Freeport Indonesia itu. Akhirnya, saya pesan; sekali-kali tidak boleh para karyawan katakan “tujuh suku siap menjadi Presdir PT.Freeport Indonesia”, sebab kalimat ini menunjukan ada unsur “Mengatasnamakan” semua orang dari 7 suku itu, baik yang berada di Papua maupun di luar Papua. [Bersambung]
_______________________________________
Penulis  adalah Mahasiswa Teknik Geologi, IST Akprind Yogyakarta
Pustaka :
[1] (baca : https://indocropcircles.wordpress.com/2013/05/29/bongkar-konspirasi-antara-sukarno-suharto-dan-freeport/) dikutip pada 15 mei 2016
[2] (baca : http://www.beritasatu.com/ekonomi/341069-pemerintah-bisa-memutuskan-ambil-alih-tambang-freeport-2019.html) dikutip pada 15 mei 2016
[3] (baca : http://ptfi.co.id/id/about/governance/management) diutip pada 15 mei 2016
[4] (baca : http://tabloidjubi.com/2016/03/29/gubernur-saya-sudah-kirim-dua-nama-oap-calon-presdir-freeport/) dikutip pada 15 mei 2016
[5] (baca : http://tabloidjubi.com/2016/03/31/tim-pemberdayaan-tujuh-suku-siapkan-calon-presdir-freeport/) dikutip pada 15 mei 2016
[6] (baca : http://theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=6196&type=4#.VzeFdb4f2gM) dikutip pada 15 mei 2016
[7]  (baca : http://theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=6196&type=4#.VzeFdb4f2gM) dikutip pada 15 mei 2016

Comments are closed.