Bagaimana Solusi Pemerintah Propinsi Papua Terkait PT.Freeport dan Masa Depan 7 Suku serta Orang Asli Papua …?

Penulis : Demianus Nawipa

I. Ulasan Sejarah Kapitalis Masuk Di Papua

Pada awalnya pulau yang terangkat dari lautan yang sangat dalam serta terakumulasi dengan bebatuan sedimen Northern Coastal Australia dan di atas permukaannya ditumbuhi dan didiami berbagai spesies endemik  flora dan fauna serta ditutupi udara yang bersalju putih abadi kini dicemari, dipunahkan dan dieksploitasi oleh negara kapitalis Amerika dan sekutunya.

Sebelum negara kapitalis itu datang ke Papua, beberapa negara yang pernah kunjungi kesanah yaitu seperti, Spanyol dan Portugis serta Belanda melalui misi pekabaran injil-nya, sehingga mereka berinama pulau itu dengan konsep dan pengamatan mereka sendiri. Seperti, ekspedisi Spanyol sebut: Noeva Guinea, Belanda sebut: Nederland New Guinea atau Ducth New Guinea. Tak heran itu semuanya adalah bermuara pada kepentingan ekonomi yang ada di pulau yang terbentuk akibat dua makro lempeng tektonik dengan pergerakannya “konvergen” itu.

Orang yang pertama  Ekspedisi di Kawasan Gunung Es adalah J.J.Dozy, geolog muda berkebangsaan belanda sejak tahun 1936, pada saat itu, beliau temukan gresberg & earthberg. Kemudian, hasil penelitiannya itu dilaporkan kepada geologi senior di Belanda dan negara-negara kapitalis.

Selanjutnya, hasil penelitiannya itu, para pengusaha dunia mengetahui, sekitar tahun 1950-an, dan para pengusaha itu, menacari data itu. Kemudian, sejak tahun 1960 Forbes Wilson menemui J.J.Dozy di Belanda, untuk meminta data penelitiannya itu.

Tak heran saat Forbes Wilson menemui, J.J.Dozy itu, menodong di dahinya dengan pistol, lalu J.J.Dozy serahkan datanya kepada Forbes Wilson sambil memberikan penjelasan. Selanjutnya bentuk kelompok investigasi para pengusaha dunia dan beberapa orang indonesia yang dipimpin oleh Forbes Wilson (1960-1963),  sejak saat itulah awal masuknya agen penipuan, agen pencemar, agen pemusnah, dan agen pelanggaran Hak asasi manusia.

Nah….!! Tidak salah jika Orang papua yang punya tanah serta seluruh isi di dalamnya dieksploitasi habis oleh negara kapitalis Amerika serta sekutunya melalui hubungan bilateral dengan Indonesia adalah salah satu agen terbesar yang dapat mencemarkan lingkungan alam dan mempunahkan flora-faunanya, bahkan sampai sebagian besar manusia berumpun melanesia dipunahkan melalui praktekl-praktek pelanggaran hak asasi manusia (HAM) tanpa mitigasi dan mensejahterakan orang asli Papua  (OAP) dari sejak awal masuknya ekploitasi tahun 1967 sebelum dilakukan penentuan pendapat rakyat (PEPERA) TAHUN 1969 yang penuh manipulatif dan militeristik.

II. Suara Derita 7 Suku  Di Papua dan Orang Asli Papua

Mulai sejak tahun 1960-an sampai saat ini, suku yang punya saham terbesar di dunia dari Negara kapitalis Amerika melalui Indonesia, sering distigmai dengan “Bodoh, Tidak Tahu Mandi, TPN-OPM, Separatis bahkan sampai dipunahkan melalui praktek-praktek pelanggaran hak asasi manusia serta segala sendi hidup pun dihalangi terus sampai saat ini.”

Sekarang, suara orang Papua tidak didengar serius oleh oknum yang sering disebut sebagai perlindungan dan pembebasan bagi masyarakat pribumi sebagai bagian dari masyarakat pribumi Internasional, pada tahun 2006 Yale University melaporkan sebagian besar orang Papua sudah punah selama Amerika ekploitasi Sumberdaya Mineral melalui Indonesia.

Tetapi, sayangnya oknum-oknum yang bicara kemanusian seperti itu, belum dilihat implementasinya, sehingga sampai saat ini “Suara Derita Orang Papua” belum berhenti, malah lebih terus dilakukan pelanggaran dan ekpansi daerah penambangan dan penebangan ilegal sebagai sumber pencemar lingkungan dan pemusnah flora, fauna termasuk manusia.

III. Mengapa Derita 7 Suku dan Orang Asli Papua Belum Berhenti…..?

Dari dahulu orang Amugme yang pertama menerima orang asing dapat ditipu oleh kelompok investigasi gunung emas dan tembaga dibawah pimpinan Forbes Wilson (1960-1963) melalui gula-gula atau korekapi, dan kerja penanaman buah pohon mangga.

Saya sedang merasa ditipu dayanya kelompok investigasi tadi melalui barang yang kita sebut sekarang korekapi dan gula-gula kecil ini. Seharusnya suara derita masyarakat Papua yang tidak berhenti ini dipertanggungjawabkan, tetapi tidak pernah didengar karena negara kapitalis merasa bahwa melalui kata gula-gula tadi terbayar lunas untuk eksploitasi gunung emas, tembaga dan perak terbesar di dunia itu.

Sekarang, embrionya dari gula-gula dan korekapi itu, terlahir miliyaran Dollar Pelanggaran HAM, penghancuran lingkungan, dijadikan daerah rebutan dan menjadi lapangan Operasi Militer pada masa lalu sampai saat ini.

Ada beberapa sebab munculnya suara derita 7 suku Pegunungan Tengah serta Orang Asli Papua umumnya, yaitu :

  1. Penipuan kapitalis  pada masa lalu (tahun 1960-an),
  2. Tidak mensejahterakan suku-suku yang mendiami di area lisensi pertambangan PT.FI,
  3. Tidak pernah meprioritaskan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan,
  4. Tidak serius menangani mitigasi terhadap lingkungan,
  5. Menjadikan daerah ekspansi (rebutan) penambangan negara kapitalis melalui pemerintah Indonesia,
  6. Menjadikan lapangan Operasi Militer Indonesia, dan lain sebagainya.

IV. Siapa Yang Menghentikan Suara Derita 7 Suku dan Orang Papua…… ?

Menurut saya, tidak ada pihak lain yang datang menghentikan suara derita kalian (7 suku + orang asli Papua). Karena pemimpin negara ini dan negara kapitalis yang ada di Papua tidak pernah ada serius untuk menghentikan suara derita masyarakat, hanya sering menjadi janji-janji tipu, untuk mencari kepentingan sesaat, seperti yang pernah ditipu oleh orang asing dan indonesia pada masa lalu (tahun 60-an).

Sekelompok intelektual Papua yang disebut orang-orang terpelajar, mempromosikan tentang pencanangan Pembangunan Kesejahteraan Manusia Papua dan daerah terisolir, melalui Visi Sentral yang diusung oleh Gubernur Papua dan wakil Gubernur Papua 2013-2018, yaitu “Papua Mandiri dan Sejahtera,” tema ini bagus bila diwujudkan. Tetapi sayangnya yang menjadi pertanyaan adalah, apakah melalui diimplementasinya untuk menghentikan “suara derita rakyat-nya….? ” atau akankah menjadi janji tipu seperti Forbes Wilson pada masa lalu (tahun 1960-an)…..?. Itulah pertanyaan dan renungan masyarakat Papua.

Masyarakat 7 suku dan suku-suku lain di Papua sedang menungguh pengharapan yang dapat menghentikan suara derita mereka. Saat ini masyarakat sudah disadarkan oleh isu kampanye dari sekelompok orang yang sering disebut dengan kelompok membangun kepentingan diri, bahwa orang Pegunungan Tengah Papua yang pertama kali menjadi Gubernur Papua akan membawa masyarakatnya ke perahu visi-nya yaitu “Papua Mandiri dan Sejahtera.”  Tetapi itu semua dukungan pembangunan berkelanjutan dari Negara Kapitalis dan Negara Indonesia agar mencapai kemakmuran rakyat.

Suara dari saya, masyarakat 7 suku Pegunungan Tengah dan Orang Papua umumnya menungguh Gubernur Papua dan Wakil Gubernur Papua yang dapat menyelesaikan masalah PT.Freeport Indonesia. Pesan saya untuk Gubernur dan Wakil Gubernur (LUKMEN), ingat “Sekali Gubernur Orang Pegunungan Tengah Papua dan sekali untuk memperjuangkan penentuan nasib sendiri demi generasi depan di tanah melanesia.”

Pada umumnya masyarakat Papua membutuhkan perlindungan dan pembebasan dan bukan meminta pembangunan yang bernuasa pendekatan Markas Militer, ekonomi dan kesejahteraan. Kalau bisah lebih prioritaskan Sumber Daya Manusia dalam Bidang Pendidikan bahkan sampai membawah diskusi bersama dengan Pemerintah Indonesia yang dimediasi oleh pihak Internasional. [bersambung]

_________________________________________________________________________

Penulis Adalah Mahasiswa Papua, Indonesia di Yogyakarta, 14 April 2013, di edit pada 14 Mei 2016.

Pustaka :

[1] (baca : https://indocropcircles.wordpress.com/2013/05/29/bongkar-konspirasi-antara-sukarno-suharto-dan-freeport/) dikutip pada 14 mei 2016

[2] (baca : http://beritabumi.meximas.com/database-lingkungan-hidup-indonesia/hasil-analisis-tiga-sungai-di-mimika-berpotensi-racun/) dikutip pada 14 mei 2016

[3] (baca :http://titusnatkime.blogspot.co.id/) dikutip pada 14 mei 2016

[4] (baca : http://tinta-amona.blogspot.co.id/2013/06/ulasan-sejarah-kapitalis-masuk-di-papua.html) dikutip pada 14 mei 2016

Comments are closed.