Bentuk Bumi Menurut Para Filsuf dan Ahli

Collage 2016-08-27 13_12_12

Thales dari Miletus (625-547 SM), dikenal sebagai bapak filsafat awal, Beliau adalah ilmuwan yang berasal dari Yunani kuno, dan seorang ahli matematika. Pada saat itu, ia meyakini bahwa suatu fenomena alam dapat dijelaskan oleh sains dibandingkan kepercayaan supernatural. Thales menggambarkan bumi sebagai “piringan datar yang mengapung di lautan tak terbatas (infinite ocean)”. Sebelumnya, ia mengamati kayu  atau benda lain yang dapat mengapung di atas air, dimana ia berpikir bahwa “air” merupakan material yang sangat penting untuk perkembangan alam semesta.

Collage 2016-08-27 13_31_58

Anaximander dari Miletus (610-545 SM), hidup sezaman atau semasa dengan Thales, ia merupakan seorang ahli kosmologi Yunani kuno (ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar). dan beliau adalah seorang murid dari Thales, jasa-jasa-nya dalam bidang geologi sangat besar karena ia merupakan orang yang pertama kali membuat peta. Anaximander melakukan ekspedisi perjalanan ke selatan-utara dan melihat bahwa adanya perubahan langit, maka ia percaya bahwa bentuk bumi tidak mungkin datar (flat). Kemudian ia melakukan perjalanan dari timur-ke barat dan melihat langitnya tidak berubah. Karena hal itu,  ia mendeskripsikan bumi berbentuk “silinder” hanya pada arah utara-selatan, bumi merupakan pusat jagat raya yang mengapung di alam semesta dengan kedudukan yang seimbang dengan benda-benda disekelilingnya. Anaximander juga mengatakan bahwa bumi dibalut oleh udara basah yang berangsur-angsur menjadi kering karena bumi terus berputar, akhirnya udara basah tersebut tertinggal sebagai laut yang kita jumpai sekarang ini.

Collage 2016-08-27 13_51_21

Pythagoras dari Samos (569-475 SM), salah satu ahli matematika Yunani yang terkenal dengan dalil “pythagoras”. Selama hidupnya ia mengembara hingga ke Asia dan Mesir. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Phytagorean. Pendapatnya tentang bumi, ia menyatakan bumi berbentuk “bulat” dan berjalan diangkasa. Pendapat Pythagoras juga didukung oleh Aristoteles. Tetapi kebenaran tentang kebulatan bumi masih simpang siur. Hal ini belum ada kesepakatan & pembuktian-pembuktian secara ilmiah, mengingat kondisi budaya berpikir pada saat itu masih dibelenggu oleh ajaran agama tertentu.

Collage 2016-08-27 14_09_57

Isaac Newton (Akhir Abad ke-17), ia mengatakan bahwa bumi tidak mungkin berbentuk bulat. Menurut teori Newton, benda kenyal yang berputar pada sumbunya akan mengalami pemampatan karena gaya sentrifugal. Namun, bumi mengalami pemampatan dengan keseimbangan tertentu sehingga ia tidak akan terus memampat sehingga lama kelamaan akan hilang. Newton berpendapat bahwa Bumi berbentuk oblate atau ellipsoid (bagian kutub cenderung datar), sedangkan Cassini bersikukuh bahwa Bumi berbentuk prolate (seperti telur). Ketika bumi berbentuk oblate/ellipsoid, maka kutub-kutubnya akan cenderung datar dan lebih cembung di khatulistiwa. Dengan demikian lebih “mendatar”-nya kutub-kutub bumi, maka seharusnya derajat meridian di kutub-kutub bumi lebih besar dari pada di khatulistiwa. Untuk membuktikan hal tersebut, tahun 1735 Academie des Science Paris mengirim ekspedisi ke Lapland dan Peru. Hasilnya adalah benar, bahwa derajat meridian di Lapland yang terletak di daerah kutub satu meter lebih panjang daripada di Peru, yang ada di khatulistiwa.

Penulis adalah alumni sarjana muda Teknik Geologi dari universitas papua

Referensi :

[1] Sapiie, Benyamin, Noer Aziz Magetsari, et al. 2006. Geologi Fisik. Bandung: Penerbit ITB,

[2] http://isnawatimazeapani.blogspot.co.id/2013/11/makalah-ahli-filsafat-thales-dan.html

[3] http://astronomy.swin.edu.au/cosmos/T/Thales

[4] http://astronomy.swin.edu.au/cosmos/A/Anaximander

[5] https://djunijanto.wordpress.com/materi/teori-pembentukan-bumi/

Comments are closed.