Geolog Muda : Daerah Paniai Rawan Bencana Geologi

1 Buah truk muatan Beras Untuk Masyarakat, Dari Nabire ke Paniai

1 Buah truk muatan Beras Untuk Masyarakat, Dari Nabire ke Paniai

Penulis : Demianus Nawipa

I. Yang Pernah Menjadi Peduli Bencana Banjir Di Kampung,

Manokwari, 08 april 2011, saya dan teman-teman mahasiswa dari kampung yang sama membentuk “Tim Peduli Bencana Banjir” Mahasiswa Kota Studi Manokwari Dari Kabupaten Paniai, Propinsi Papua. Kemudian, saya dipercayakan menjadi ketua Tim oleh teman-teman, dan saya juga bersyukur atas kepercayaan itu, karena saat itu saya lagi menjabat Sekjend BEM UNIPA. Kami bentuk Tim itu karena, kami dengar kabar bahwa beberapa kampung di kabupaten Paniai, terjadi bencana banjir.

Waktu itu, menurut media online maupun cetak, dikatakan bencana banjir itu terjadi karena, curah hujan terus – menerus selama 3 bulan dan sebelum tiga bulan itu, terjadi musim kemarau sepanjang tahun, katanya.

Setelah terbentuk Tim itu, selanjutnya kami sepakat untuk menjalankan aksi penggalangan dana selama 2 hari. Saat itu saya dan teman-teman saya pernah dibantu dari teman-teman organisasi mahasiswa seperti ” BEM, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam UNIPA, PMK & KMK serta IMPT “ dan selanjutnya kami sama-sama menjalankan penggalangan dana itu.

Saat itu, Tempat-tempat yang kami pernah galang adalah  Kampus, setiap perempatan (lampuh merah), pertokoan dan kios yang ada di ibukota Propinsi Papua barat, Manokwari. Kemudian saat itu dana yang kami kumpulkan adalah sebasar, Rp. 42.000.000,- (Empat Puluh Dua Juta Rupiah). Selanjutnya, pada tanggal 10 april 2011, dana tersebut dibelikan dalam bentuk Bama (beras beberapa ton), dan tim sendiri antar ke kampung yang tergenang bencana banjir itu.

II. Cerita Kronologis Terjadinya Bencana Banjir

Objek Peta Geomorfologis Daerah Paniai dan Sekitarnya

Objek Peta Geomorfologis Daerah Paniai dan Sekitarnya

Bencana banjir itu, karena curah hujan terus – menerus selama 3 bulan itu, maka terjadi meluapnya air dari “Danau Paniai” sampai ke rawa-rawa bahkan sampai ke kampung – kampung yang terletak daerah aliran sungai.

Kampung – kampung eyagitaida, geitapa, pogeidimi, makidimi, geida, widimeida, gakokotu, debamomaida, dinubutu, dan wopabaida. Kampung-kampung itu terletak Daerah Aliran Sungai (DAS), dari sungai “Agaa” dan “Ekaa”. Kedua sungai ini pusat kepala airnya satu, yaitu terletak di pegunungan Grasberg bagian barat laut. Kemudian, kedua sungai tersebut, mengalir di tengah-tengah dua lembah besar yaitu; “lembah Agadide” & “Lembah Ekadide” kemudian muarahnya sampai di Danau Paniai.

Luapan air terjadi juga karena, dasar danau paniai lebih dominan tanah lempung yang berlumpur tinggi serta dari danau paniai hanya mempunyai satu sungai yaitu “sungai yawei” yang muarahnya sampai di lautan arafura, dekat daerah kokonao, tetapi sungai itu juga terbendung oleh “Batugamping New Guinea (Yeuwomogo : Bahasa Mee)”, yang terletak di kampung puteyato, sehingga danau paniai dilihat dari udara sepertinya sebuah “Kolam/Telaga besar yang terbendung”.

Sebenarnya bencana banjir tersebut sering terjadi mulai sejak nenek moyang sampai saat ini,  tergantung musim. Namun banjir yang terjadi sejak tahun 2011 lebih besar dari yang sebelumnya. Maka, akibat dari bencana banjir itu, masyarakat susah mempertahankan hidup yang layak. Dan saat itu masyarakat mengungsi (evakuasi) ke kampung – kampung yang aman. Tetapi, sayangnya itu, mereka punya kebun, ternak dan kolam ikan dirusakan oleh bencana banjir tersebut.

III. Praduga Terjadinya Bencana Banjir

Saat itu kami menduga bahwa; bencana banjir luapan air terjadi karena beberapa, hal sebagai berikut :

  1. Akibat eksplorasi Perusahaan MBM & Mineserft di kampung kobetakaida, ipouwo, dauwagu, komopa, dan kanebaida,
  2. Pencairan Es di pegunungan Grasberg Papua, akibat perubahan iklim secara global yang terjadi di bumi ( menurut : Prof Geologi Lonnie Thompson dari Ohio University : di asumsikan dalam penelitianya tahun 2010 bahwa; 2030 es yang satu-satunya di pegunungan grasberg akan habis),
  3. Curah Hujan terus – menerus selama 3 bulan tanpa henti-hentinya,
  4. Penebangan pohon secara tidak terkendali, oleh pihak perusahaan maupun pemerintah daerah serta masyarakat itu sendiri.

IV. Antisipasi Untuk Pemerintah Kabupaten Paniai,

Secara, geologi wilayah kabupaten paniai mempunyai sumberdaya alam yang sangat melimpah, baik itu sumberdaya hayati maupun sumberdaya nonhayati serta sumberdaya energi, oleh karenanya, wilayah ini mempunyai beberapa rawan bencana geologi, seperti :

  1. Daerah paniai sangat mudah terserang oleh penyakit modernisme,
  2. Mempunyai beberapa kampung yang rawan terhadap bencana banjir,
  3. Menurut hasil anasisa TA sarjana muda geologi, saya mengolah data gempabumi, dan pemetaan kerawanan nilai percepatan gerakan tanah maksimum,  di wilayah paniai meduduki, rawan bencana sedang sampai besar, maka daerah tersebut kategori rawan terhadap bencana gerakan tanah (tanah longsor),
  4. Daerah tersebut juga sering terjadi gempabumi tektonik akibat tarikan antara sesar naik derewo (degeuwo), pegunungan gresberg dan sesar sungkup weyland, sehingga terbentuk pegunungan dan berbukitan yang berterjal tajam, dll.

Maka, mulai sekarang, pemerintah daerah khususnya instansi yang terkait harus mengupayakan suatu inventarisasi sumberdaya alam yang ada serta perlu dilakukan pemetaan bencana geologi sebagai bagian dari antisipasi sebelum tiba bencana itu, sebab kita tidak tahu kapan akan tiba bencana tersebut….? hanya kita siapkan suatu mitigasi sebelum terjadi, dengan menggunakan ilmu rekayasa penerapan teknik yang kita miliki dan disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan mitigasi sebelum terjadi bencana, seperti pemerintah siapkan usaha penanaman pohon, demi kehidupan masa depan.

________________________________________________

Penulis adalah Mahasiswa Teknik Geologi Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Comments are closed.