Nabire (Papua): Empat Kampung Melanda Banjir

Penulis : Demianus Nawipa
I. Apa yang ada di Nabire ?
Nabire merupakan salah satu kabupaten yang terletak di teluk cendrawasih, propinsi Papua. Daerah Nabire sangat strategis dan penentu untuk beberapa kabupaten di daerah pegunungan Papua bagian barat, seperti kabupaten paniai, deiyai, dogiyai, dan intan jaya serta puncak jaya.
Peta Wilayah Kabupaten Nabire

Peta Wilayah Kabupaten Nabire

Semua orang dari berbagai daerah di indonesia ini, tahu dan mengenal NABIRE, oleh karena adanya potensi pertanian, perkebunan dan sumberdaya alam lainya, seperti; singkong, buah jeruk, emas dan masih banyak lagi. Nabire daerah yang sering diberikan berbagai nama, yaitu : Kota Singkong, Kota Jeruk (Bumiwonerojo), Kota Emas dan Kota Gempa, dan sekarang lagi disebut kota lahan kelapa sawit dan terakhir kota banjir, dan nanti akan disebut kota apa lagi…?? saya tidak pastikan saat ini…!

II. News : Empat kampung melanda banjir di Distrik Makimi

Makimi adalah nama kecamatan yang terletak di nabire bagian timur, posisinya pelabuhan kapal laut nabire (samabusa) sampai Lagari. Menurut media nabire net, di kabarkan bahwa dalam distrik itu ada empat kampung melanda banjir yang sangat parah akibat hujan terus-menerus selama tiga (3) hari, dalam minggu yang telah lewat ini. Ke-empat kampung itu adalah kampung lagari, maidey, manunggal jaya dan makimi (ibukota distrik).

Tim SAR & BPBD Bawa Bama

Tim SAR & BPBD Bawa Bama

Kemudian menurut nabire net, untuk masyarakat di empat distrik itu dibantu bama dari TIM SAR & BPDB sebanyak 16 personil langsung turun. Kampung-kampung yang ada di distrik/kecamatan itu, secara geografi dan geomorfologinya adalah perbukitan, daerah lembah dan rawa-rawa serta ditutupi oleh vegetasi (pepohonan) yang sangat tinggi. Dan, daerah tersebut juga mempunyai beberapa sungai, yaitu sungai lagari, sungai makimi dan sebagainya.

Penduduk yang ada di dsitrik itu adalah masyarakat asli daerah dan masyarakat transmigrasi dari pulau lain di indonesia yang sudah menjadi penduduk asli nabire. Mata pencaharian mereka adalah dua, yaitu masyakarat asli : berkebun secara tradisional sedangkan masyarakat transmigrasi : buat sawa, lahan, jagung dan lain sebagainya. Sesuai realita yang terjadi, di lapangan di daerah-daerah itu, setelah transmigrasi masuk, terjadi perubahan dengan cara membuka lahan dan lokasi baru, sehingga mereka menebang pohon-pohon beberapa hektar tanah yang begitu luas serta dibakarnya, kemudian mereka menanam dan menempati disitu.

Sekitar tahun, 2004/2005, di wilayah itu juga dibuka kompleks pos senapan/kompi anggota TNI baru, sehingga, sering mereka juga secara tidak sengaja menebang pohon dan dibakarnya, demikian juga masyarakat lokal, saat mereka mau bikin kebun secara tradisional menebang pohon dan membakarnya, tetapi luasan tanahnya tidak seperti yang buat oleh penduduk transmigrasi yang ada di daerah tersebut.

Sungai Wami di Wami Jembatan Putus

Sungai Wami di Wami Jembatan Putus

Dalam, waktu yang bersamaan, di nabire di distrik Wanggar, tempatnya di sungai Wami di daerah wami terjadi banjir, sehingga terjadi jembatan terbawa banjir dan kerusakannya sangat parah. Daerah Wami adalah di mana daerah yang sudah dan sedang dibuka lahan baru untuk menanam kelapa sabit dari perusahaan kelapa sawit. Tempat itu, jug sebelumnya mempunyai beragam pepohonan yang sangat lebat, tetapi semua itu sudah ditebang habis oleh pihak pengusaha dan karyawan kelapa sawit tersebut.

III. Mengapa terjadi Banjir …. ?
Daerah nabire sebelumnya juga sering terjadi banjir, tetapi tidak seperti separah begitu. Walaupun hujan terus-menerus beberapa minggu atau bulan, tidak pernah terjadi banjir separah seperti itu. Maka itu, pemerintah daerah melalui Badang Penanggulangan bencana, serta pemerhati lingkungan dan LSM Kompak perlu melakukan investigasi serta dilakukan suatu penelitian dan selanjutnya dibuat sebuah kajian ilmiah, sebagai mitigasi dalam bencana geologi yang akan terjadi secara alamia dan akibat hasil ulah manusia nanti.
Secara pribadi, bencana banjir ini, saya tidak sependapat dengan apa yang diberitakan oleh nabire.net, bahwa bencana banjir ini terjadi hanya karena hujan terus-menerus selama 3 hari. Tetapi, saya mempertanyakan bahwa; sebelum terjadi banjir di daerah-daerah itu ! fenomena perubahan alam apa saja yang ada….? seperti kondisi geomorfologis, aktivitas sosial, aktivitas pihak berkentingan yang membuka lahan baru !!… dll Mengapa saya katakan terjadi banjir itu, bukan hanya karena hujan tidak berhenti-henti selama 3 hari…? alasan saya; sebab-sebab banjir bisa terjadi bila :
  1. Penebangan & pembakaran hutan, sehingga hutan menjadi rontok,
  2. Penebangan berlebihan di sepanjang daerah aliran dungai (DAS) yang ada, saat melakukan pendulangan emas secara alat klasik,
  3. Membuang sampah disembarangan tempat atau sepanjang sungai atau sepanjang parit/got,
  4. Banjir akibat tsunami, di sepanjang wilayah pantai, dll.
Demikianlah, tulisan ini menjadi masukan buat pihak pengambil kebijakan di daerah kabupaten, dan kecamatan yang ada di nabire.
____________________________
Penulis adalah Mahasiswa Teknik Geologi IST Akprind Yogyakarta

Comments are closed.