Saya : Peserta Kegiatan Dialog Jakarta – Papua Mencari Perdamaian Papua

Penulis : Demianus Nawipa

1. Kesedihan-Ku, Saat Ikut Kegiatan Tentang Diskusi Publik Papua Tanah Damai

Dalam bulan Mei pada minggu ke empat, tepat hari ke-29, saya mendengar sebuah berita diskusi publik  tentang Papua Tanah Damai. Kegiatan itu dilaksanakan pada 30 Mei 2015 di Ruang Seminar Univeristas Islam Negeri Sunan Kalijaga-Yogyakarta. Menurut SMS yang saya dapat, kegiatan itu dimulai pada pukul 09.00 pagi – selesai (Waktu Yogyakarta). Kegiatan itu dilaksanakan oleh Social Movement Institut bekerjasama dengan Jaringan Damai Papua, LIPI, Rhetor, IKPMDI, dan Engage Media.

Pada pagi hari tanggal 30 Mei 2015, saya bersama teman-ku Yesaya Tekege pergi ikut kegiatan itu, dengan menggunakan motornya. Sesampai tempat pelaksanaan kegiatan, motor kami parker di depan halaman gedung yang dilaksanakan kegiatan itu. Saya masuk, dan di pintu masuk, saya dilayani oleh panitia, mereka berikan saya profile dan tiga buah buku kecil dan 1 kotak makan snack. Ketiga buku itu masing-masing berjudul ; Dialog Internal Papua, Serap Aspirasi Rakyat Papua tentang Papua Tanah Damai, dan Indikator Papua Tanah Damai : Versi Masyarakat Papua.

Setelah mendapat 1 profil dengan tulisan “Dialog Adalah Kita”  serta ketiga buku itu, saya masuk ke ruangan seminar yang disediakan oleh tim kerja pelaksana kegiatan.  Saya melihat di ruangan itu penuh dengan peserta diskusi publik, tetapi yang ada dalam ruangan itu yang paling banyak adalah bukan orang (mahasiswa) asli Papua. Saat itu, saya memilih tempat duduk di kursi deretan ke-4 dari depan. Saat itu juga saya duduk dan merasa sedih dengan menangis airmataku berkaca-kaca, sebab saya melihat peserta yang ikut pada kegiatan itu  semua mahasiswa islam dari kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, seharusnya semua mahasiswa Papua menjadi peserta diskusi publik pada kegiatan seperti itu, tetapi saat itu hanya 4 atau 5 orang mahasiswa asli Papua yang menjadi peserta.

2. Saya Memperoleh “Profile Dialog Adalah Kita”

Setelah duduk saya membaca 3 buah buku tadi, dan isinya menarik untuk membaca dan mengetahui tentang multi kekerasan (multi masalah) yang sudah dan sedang terjadi di atas tanah Papua secara nyata. Semua masalah/kekerasan itu yang sedang dialami adalah semua masyarakat asli Papua, maka perlu ada solusi dan jalan untuk menyelesaikan kekerasan itu, melalui jalan damai agar masyarakat Papua juga menikmati suatu perdamaian dan keadilan.

Saya melihat dan membaca 3 buku kecil ini sumber pikiran dari buku “Dialog Jakarta –Papua Persfektif Papua, ( Pater Kebadabi Tebai)”, sebab buku ini adalah buku membuka jalan pikiran dan wawasan manusia lain untuk mengarahkan ke jalan yang benar untuk mencari dan menikmati suatu perdamaian dan keadilan. Selain melahirkan 3 buah buku kecil bersumber dari pikiran dan wawasan Pater Kebadabi, ada buku tentang “ 100 orang angkat penah demi Dialog Papua, (penerbit : Interfidei-Yogyakarta),” itu juga dilahirkan dari sumber konsep Pater Kebadabi dan ada juga buku “Road Map To Papua, (LIPI : Dr.Muridan S. Widjojo, dkk)”.

Saya ingin sampaikan bahwa,”dialog adalah kita”sebab buku-buku tadi, menjadi sebuah pencerahan yang kuat bagi mahasiswa dan intelektual yang peduli dengan masalah kemanusiaan serta perdamaian, sebelum menengok ke dunia lapangan masalah kekerasan. Kuncinya untuk menyelesaikan semua multi kekerasan Negara hanya dapat diselesaikan dengan kekuatan orang yang membaca dan memahami serta mendukung tentang isi buku-buku tadi, sebab tanpa media jalan damai tidak mungkin kita akan menikmati suatu perdamaian dan keadilan.

3. Saya Mendengar Kata Para Nara sumber Diskusi Publik Papua Tanah Damai

Setelah kami (peserta diskusi) penuhi ruangan seminar, para pemandu acara berikan kesempatan para narasumber dan moderator. Pengarah diskusi itu adalah 3 orang dan 1 orang moderator. Nara sumber itu adalah Okto Pekei dari Anggota Jaringan Damai Papua, Zelly Ariane (Akivis Kemanusiaan dan Papuaitukita/ketua NAPAS), serta seorang Ibu namanya tidak kenal, dia dari anggota Serap Aspirasi Rakyat Papua (SARP) tentang Papua Tanah Damai dan seorang moderator Eko Prasetyo (Ketua Badan Kerja Social Movement Institut).

Setelah mereka menempati kursi pengarah diskusi yang disediakan, moderator berikan kesempatan pertama kepada Bpk.Okto Pekei dan dalam pemaparan materinya tentang “Jalan Menyelesaikan Papua Tanah Damai” melalui dialog sebagai sebuah cara atau jalan dan media bagi kedua pihak yaitu Jakarta dan Papua, sebab dialog hadir di bumi Indonesia untuk mencari jalan mendamaikan Papua atas segala masalah yang dibuat oleh negaran Indonesia dengan prinsip “NKRI Harga Mati” dan Pihak yang satu juga berpikir dan mempertahankan “Papua Merdeka Harga Mati”, maka dengan dipertahankan terus dengan kedua prinsip itu, sehingga masyarakat mengalami suatu kekerasan yang berlebihan tanpa henti-hentinya sepanjang hidup mereka.

Saat itu, saya dengar kemudian menulis ungkapan Bpk.Okto Pekei juga bahwa “Jaringan Damai Papua itu bukan solusi tetapi jalan/cara agar kedua belah pihak duduk bersama-sama untuk berdialog,” maka pihak Jakarta dan Papua jangan mencurigai bahwa Jaringan Damai Papua itu bertujuan untuk mendukung Papua Merdeka atau untuk mendukung dan mempertahankan NKRI harga mati.

Para nasionalis Indonesia jangan berpikir bahwa pencetus JDP adalah Pastor Orang asli Papua jadi mendukung Papua Merdeka, atau mempertahankan NKRI harga mati, tetapi masalah kekerasan dan ketidakadilan adalah tugas dan kewajiban kita bersama untuk mencari jalan perdamaian dan keadilan agar masyarakat kecil juga dapat menikmati perdamaian dan keadilan yang terjamin tanpa masalah baru di hadapan mereka.

Penjelasan narasumber kedua, yaitu seorang Ibu namanya tidak tahu, beliau dari SARP (serap aspirasi rakyat papua) bahwa; Jaringan Damai Papua adalah bukan solusi tetapi cara/jalan untuk mencari perdamaian antara Jakarta dan Papua. Dia menjelaskan juga bahwa kampanye JDP cukup lama dibangun oleh JDP dan LIPI serta Jakarta sudah mengenalnya, tetapi masih belum diresponi yang jelas sesuai konsep dialog versi JDP, dan dialog adalah satu-satunya jalan demi mendamaikan segala kekerasan Negara terhadap rakyat asli Papua,  dan dialog itu tetap akan hidup dan terus dilakukan sampai akan terwujud perdamaian dan keadilan agar masyarakat asli Papua menikmati  perdamaian. Menurutnya juga bahwa; Jokowi sudah janji untuk menyelesaikan masalah Papua melaui jalan damai, tetapi…..? instansi tertentu yang menghalanginya.

Penjelasan Pengarah diskusi yang ke-3 adalah Zelly Ariane (Aktivis Kemanusiaan/Ketua NAPAS); Saat itu, saya mendengar dan menulis penjelasannya bahwa; Zelly apresiasi “gerakan Papua Itu Kita” dengan cara pandang seluruh Indonesia itu sendiri, maka masalah Papua itu “ kembali ke awal proklamasi republik Indonesia”, artinya soal itu harus diluruskan, saat ini ada pemerintahan yang baru untuk meluruskan persoalan itu, sebab kita juga belum mengenal Papua, pada hal kita katakan Papua adalah Indonesia, hanya kita tahu orangnya yang kita sering melihat, maka itu, kenali Papua itu dengan hati, artinya kekerasan terjadi di Papua banyak yang dilakukan oleh pihak militer dan polisi Indonesia, maka perlu diselesaikan mulai dari sejarah dan pelanggaran hak asasi manusia.

Saya dengar ketika Zelly pernah ungkap dalam diskusi itu bahwa kalau benar Papua itu Indonesia mengapa dilakukan terus…?  militerisasi, pers ditutupi (wartawan asing tidak diijinkan), dan dilakukan investasi, sambil membangun stigma separatis, OPM, dan Pemabuk serta hitam itu jelek.

Pada hal sejarah Papua di Indonesia dari dulu pernah bermasalah, sedang bermasalah dan akan bermasalah, serta proses integrasi itulah yang perlu didialogkan oleh seluruh orang Indonesia secara adil dan damai. Pemerintah Indonesia juga sering katakan NKRI harga mati, tetapi menurut saya benar mati banyak, dan rakyat Indonesia mati banyak, pada hal mereka adalah rakyatmu di dalam Negara Indonesia (Zelly Ariane).

Setelah paparkan oleh ke-3 Nara sumber, dilanjutkan dengan ruang diskusi bersama dalam bentuk tanya jawab. Saat itu saya dengar ada teman peserta diskusi pernah memberikan jawaban pada pertanyaan yang ditulis dalam buku kecil yang berjudul SARP tentang Papua Tanah Damai, dengan pertanyaannya; menurut anda, apa ciri-ciri dari Papua tanah damai ? teman itu punya jawaban yang pernah sampaikan adalah “ Papua harus merdeka di atas kekayaan alamnya sendiri “ itulah jawaban dari pikiran saya katanya. Selanjutnya ada seorang mahasiswa lain di UIN, saat itu disampaikan bahwa Bapak aku kerja di PT.Freeport, saya tahu di timika Papua itu sering terjadi perang suku, maka perlu ada pendekatan dari pemerintah untuk mendamaikan itu, cuma yang selama ini, buat pendekatan diri kepada masyarakat timika Papua adalah hanya militer dan polisi yang bertugas di sana, katanya.

Selanjutnya diskusi itu mereka (para narasumber) simpulkan tentang dialog adalah bukan solusi tetapi cara/jalan untuk mencari dukungan perdamaian, maka katanya kita semua (orang papua dan nonpapua) yang peduli dengan Papua adalah solusi, dan dialog itu tetap akan hidup sampai titik penyelesaiannya tentang kekerasan di tanah Papua dalam Negara Indonesia.

4. Papua Tanah Darurat Kekerasan Negara Mencari Perdamaian

Saya sebagai seorang mahasiswa putra asli Papua dari Paniai pernah ikut pada kegiatan itu, dan saat itu saya merenung tentang thema kegiatan diskusi yang dicantumkan yaitu “ Diskusi Publik Papua Tanah Damai,”. Sebagai putra daerah menarik nafas karena kaget bahwa sebenarnya rakyat Papua sedang alami itu bukan seperti tema yang dicantumkan, tetapi saat itu saya apresiasi dan maklum saja, sebab yang buat thema itu bukan dari saya sebagai orang asli Papua, tetapi yang buat adalah orang lain yang peduli dengan Papua tanpa melihat dengan mata mereka tentang keadaan masyarakat asli Papua saat ini.

Ternyata apa yang saya renung dan merasakan itu, sama juga direnung dan dipikir oleh seorang pemateri pertama yaitu Bpk.Okto Pekei, sebelum beliau menjelaskan materi diskusinya, dia klarifikasi tentang thema tadi yaitu “ Diskusi Publik Papua Tanah Damai,” menjadi “ Diskusi Publik Mencari Jalan Menjadikan Papua Tanah Damai,”.

Selanjutnya ada komentar atau klarifikasi tentang thema diskusi itu juga dari Presiden Mahasiswa Papua Yogyakarta, Aris Yeimo, yang saat itu ikut pesert kegiatan itu, katanya; Papua bukan tanah damai, tetapi zona darurat, karena kekerasan militer Indonesia membuat berlebihan atau lain dari yang lain, dan beliau menyatakan, saya ini sisa dari yang banyak mati/meninggal akibat kekerasan militer Negara Indonesia melaui organik maupun non-organik.

Ada penjelasan yang tepat tentang JDP dan kekerasan di Papua dari seorang activis Kemanusiaan Papua, Marthen Goo, saat itu beliau menjelaskan bahwa; Papua itu punya multi masalah maka semua orang perlu mengikuti langkah-langkah yang pasti untuk memperoleh suatu perdamaian demi masyarakat Papua mulai saat ini sampai selanjutnya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan menurut Marthen Goo adalah; Papua adalah masalah keamanan dari sejak Papua dimasukan ke dalam Negara Indonesia, maka selanjutnya perlu dilakukan pradialog yang pasti melahirkan kesepakatan dan pemahaman antara Jakarta dan Papua serta selanjutnya dilakukan puncak dialog untuk memperoleh suatu perdamaian, khususnya bagi rakyat asli Papua.

Menurut Marthen Goo, konsep dialog yang saya maksud adalah berdasarkan petunjuk buku induk oleh Pater Neles Kebadabi Tebai, yaitu; “ Dialog Jakarta-Papua Presfektif Papua “. Menurut beliau, JDP hanya menyiapkan buku/materi dialog dan mensosialisasikan materi dialog, dan JPD tidak memihak Papua Merdeka dan tidak memihak NKRI harga mati. Selanjutnya beliau menjelaskan sesuai realita yang saya lihat bahwa; satu ciri kepunahan orang asli Papua adalah saya memperoleh data tentang penduduk di merauke tahun 2014 yaitu 30 % orang Papua asli, dan 70 % orang non-Papua, hal yang sangat menyedihkan saya adalah kehidupan masyarakat asli di areal MIFE dibuat diskriminasi dan diminoritaskan oleh perusahan MIFE dan orang pendatang, katanya.

Usai dari kegiatan diskusi publik itu, hadirin dihibur dengan dua buah lagu oleh seorang penyanyi bernama Yubi/Tudjoh. Lagunya itu, sangat menginspirasi kami, tetapi saya tidak tahu lagunya, setelah usai bernyanyi beliau tutup dengan sebuah kalimat, katanya “yang membuat masalah dan kendalikan kita di Negara Indonesia ini adalah BIN/BAIS, dan Militer serta Polisi Indonesia, terutama di Papua,” hanya kalimat itu yang saya tanggap dari banyak kalimat dalam dua buah lagu yang dinyanyikannya.

Pada akhirnya tulisan ini menjadi suatu pencerahan diri saya (penulis) tentang apa yang saya pernah dengar dan tulis dalam kegiatan diskusi publik tentang Papua Tanah Damai. Saya menyampaikan tulisan ini menjadi satu pikiran yang saya perlu bagikan buat siapa saja yang membaca, agar melalui tulisan ini akan berguna demi Papua Adalah Kita dan menjadikan “Satu Papua” menggapai suatu impian bersama.

_________________________________________________________

Penulis adalah Aktivis Peduli Pendidikan Papua Yang Sedang Kuliah di Yogyakarta

Comments are closed.